Kekalahan atas Deltras Sidoarjo, kemarin sore, tidak diterima sepenuhnya oleh Macan Putih. Mereka melancarkan protes keras kepada pengawas pertandingan karena menganggap tim lawan bertindak tidak fair.
Deltras dinilai menyalahi aturan yang telah disepakati dalam manager meeting. Yakni, menurunkan empat pemain asing dalam pertandingan. "Padahal, kesepakatannya, masing-masing tim hanya bisa memasukkan empat pemain asing dalam line up dan tiga yang diturunkan," protes Manajer Persik Sunardi.
Dalam pertandingan itu, Deltras memasukkan empat pemain asing dalam line up dan menurunkan semuanya. Mereka adalah Danilo Fernando, Christiano Lopes, Bationo Germain, dan Sackie Doe. "Ini kan jelas menyalahi aturan, kami tidak bisa menerima," tukasnya.
Persik sendiri hanya menurunkan tiga pemain asing dalam line up-nya. Mereka adalah O.K. John, Adrian Trinidad, dan Orock. Namun, dari tiga pemain impor tersebut, hanya Trinidad dan Orock yang diturunkan.
Di sela-sela pertandingan, ofisial Persik sempat mendatangi meja pengawas pertandingan dan mengajukan keberatan. Bahkan, mereka sempat akan keluar lapangan dan tidak melanjutkan pertandingan. Namun, niat itu akhirnya dibatalkan. Macan Putih bersedia melanjutkan pertandingan. Akan tetapi, mereka meminta agar Deltras didiskualifikasi.
Atas hal ini, kubu Deltras menampik tudingan bahwa mereka telah berbuat curang. Meski mengakui dalam manager meeting disepakati tiap tim hanya bisa menurunkan tiga pemain asing, mereka bersikukuh tindakannya sudah benar. "Dalam PPK (peraturan pertandingan khusus), boleh lima pemain dan diturunkan empat," kata Ayu Sartika, manajer Deltras Sidoarjo.
Makanya, dia bersikukuh timnya tidak bersalah. "Kami mengacu pada PPK," tandasnya, usai pertandingan. Dalam PPK memang disebutkan bahwa tiap tim bisa memasukkan lima pemain asing dalam line up dan hanya empat yang bisa diturunkan. Namun, masalahnya, pada manager meeting ada kesepakatan baru. "Ini adalah kesalahan dari PP yang tidak membawa PPK saat manager meeting," tambah Makin Rahmat, ketua Panpel Deltras Sidoarjo. (jie/hid/jawapos)
Minggu, 19 September 2010
Mainkan 4 Asing, Persik Tuding Deltras Salahi Aturan
Senin, 13 September 2010
Persik Coret Lima Senior
Lima pemain senior Persik Kediri dicoret dari tim dengan alasan indisipliner. Mereka adalah Harianto, Suswanto, Jefry Dwi Hadi, Khusnul Yuli dan kiper Wahyudi. Pencoretan itu diutarakan Ketua Umum Persik Kediri Samsul Ashar kemarin.
Ada dua alasan kelimanya dinilai indisipliner. Pertama karena mereka yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) jarang masuk ke kantor dan yang kedua adalah aksi mogok yang dilakukan kala bertanding menghadapi Persema pada ajang Piala Gubernur di Lamongan lalu.
Kelimanya sepakat mogok dengan alasan belum ada kepastian kontrak. "Kita akan memberi sanksi pencoretan. Sikap indisipliner itu tidak baik untuk tim. Paling penting, tindakan itu tidak boleh terulang lagi," kata Samsul.
Sebagai Ketua Umum Persik sekaligus Wali Kota Kediri, Samsul akan memberikan dua opsi untuk lima pemain yang mempersembahkan gelar juara untuk Macan Putih itu. Opsi pertama adalah keluar dari Persik jika ingin tetap sebagai pemain profesional dan memilih klub lain. Opsi lainnya, tetap menjalankan tugas sebagai PNS di lingkup Pemkot Kediri.
Pencoretan tersebut cukup mengejutkan, mengingat Persik butuh pemain berpengalaman untuk kembali promosi dari Divisi Utama. Tapi manajemen sama sekali tidak khawatir itu bisa mengganggu persiapan tim yang dilakukan pelatih Jaya Hartono. Samsul optimistis tim tetap siap tanpa kelimanya.
Sayang hingga berita diturunkan belum ada konfirmasi resmi dari pelatih Jaya Hartono. Padahal sesuai skenario semula, Persik bakal menggabungkan materi pemain anyar dengan kelima senior tersebut. Sebelumnya Jaya sudah menambah kekuatan dengan merekomendasi 12 pemain hasil seleksi selama beberapa hari lalu.
Harianto, Khusnul Yuli dan Suswanto adalah mantan pemain Arema Malang yang bergabung ke Persik pada musim kompetisi Divisi Utama 2002-2003 lalu (kala itu belum ada Liga Super). Bersama Jefry Dwi Hadi dan Wahyudi, mereka berhasil mempersembahkan juara Divisi Utama dua kali, yakni pada 2003 dan 2006.
Karena prestasinya, Walikota Kediri waktu itu, Maschut, memberi penghargaan dengan memasukkan mereka sebagai PNS di Pemkot Kediri. Sebelumnya mereka tidak pernah melakukan tindakan indisipliner seperti beberapa waktu lalu.
Manajemen beranggapan sikap tersebut berlebihan karena kelimanya masih mempunyai ikatan dengan Persik Kediri dan harus tetap berkomitmen ke tim. Dengan berkurangnya lima pemain, konsekuensinya pelatih Jaya Hartono harus bekerja keras menambal kekurangan pemain. Rencananya Persik akan diisi sekitar 25 pemain di kompetisi Divisi Utama nanti.
Ada dua alasan kelimanya dinilai indisipliner. Pertama karena mereka yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) jarang masuk ke kantor dan yang kedua adalah aksi mogok yang dilakukan kala bertanding menghadapi Persema pada ajang Piala Gubernur di Lamongan lalu.
Kelimanya sepakat mogok dengan alasan belum ada kepastian kontrak. "Kita akan memberi sanksi pencoretan. Sikap indisipliner itu tidak baik untuk tim. Paling penting, tindakan itu tidak boleh terulang lagi," kata Samsul.
Sebagai Ketua Umum Persik sekaligus Wali Kota Kediri, Samsul akan memberikan dua opsi untuk lima pemain yang mempersembahkan gelar juara untuk Macan Putih itu. Opsi pertama adalah keluar dari Persik jika ingin tetap sebagai pemain profesional dan memilih klub lain. Opsi lainnya, tetap menjalankan tugas sebagai PNS di lingkup Pemkot Kediri.
Pencoretan tersebut cukup mengejutkan, mengingat Persik butuh pemain berpengalaman untuk kembali promosi dari Divisi Utama. Tapi manajemen sama sekali tidak khawatir itu bisa mengganggu persiapan tim yang dilakukan pelatih Jaya Hartono. Samsul optimistis tim tetap siap tanpa kelimanya.
Sayang hingga berita diturunkan belum ada konfirmasi resmi dari pelatih Jaya Hartono. Padahal sesuai skenario semula, Persik bakal menggabungkan materi pemain anyar dengan kelima senior tersebut. Sebelumnya Jaya sudah menambah kekuatan dengan merekomendasi 12 pemain hasil seleksi selama beberapa hari lalu.
Harianto, Khusnul Yuli dan Suswanto adalah mantan pemain Arema Malang yang bergabung ke Persik pada musim kompetisi Divisi Utama 2002-2003 lalu (kala itu belum ada Liga Super). Bersama Jefry Dwi Hadi dan Wahyudi, mereka berhasil mempersembahkan juara Divisi Utama dua kali, yakni pada 2003 dan 2006.
Karena prestasinya, Walikota Kediri waktu itu, Maschut, memberi penghargaan dengan memasukkan mereka sebagai PNS di Pemkot Kediri. Sebelumnya mereka tidak pernah melakukan tindakan indisipliner seperti beberapa waktu lalu.
Manajemen beranggapan sikap tersebut berlebihan karena kelimanya masih mempunyai ikatan dengan Persik Kediri dan harus tetap berkomitmen ke tim. Dengan berkurangnya lima pemain, konsekuensinya pelatih Jaya Hartono harus bekerja keras menambal kekurangan pemain. Rencananya Persik akan diisi sekitar 25 pemain di kompetisi Divisi Utama nanti.
Rabu, 08 September 2010
Jaya Rekomendasikan 12 Pemain
Jerih payah pelatih Jaya Hartono mengoleksi pemain anyar Persik Kediri mulai membuahkan hasil. Kemarin dirinya merekomendasikan 12 pemain ke manajemen untuk disodori kontrak semusim ke depan. Pemain itu merupakan hasil penyaringan dari 50 lebih pemain yang mengikuti seleksi.
"Untuk sementara ada 12 pemain yang memenuhi syarat. Kemampuannya sudah sesuai dengan kebutuhan kita di Divisi Utama. Mereka sudah kita ajukan ke manajemen yang paling berwenang soal kontrak," ujar Jaya dihubungi kemarin.
Selama sepekan terakhir, Jaya bersama asisten pelatih Musikan dan Andi Sukrian bekerja keras memilih pemain yang menjajal peruntungan di Macan Putih. Proses seleksi tak mudah dan butuh waktu lebih panjang karena pemain berstatus tarkam juga percaya diri ikut.
Nama yang direkomendasikan Jaya ternyata bukan wajah baru di kompetisi domestik. Di sana ada Amzar Reza (eks Persela), Sonny Kurniawan, Herman Romansyah (eks Persiba), Abdi Gusti (eks Persisam), Ade Chandra (eks Persib), hingga Franky Irawan (eks kiper Persija).
Nama-nama itu mencuat, kata Jaya, karena kualitasnya di atas 38 pemain lainnya. Ia tak mau ambil risiko dengan merekomendasikan pemain tanpa latar belakang pengalaman di kompetisi sebenarnya. Hasil seleksi ini sekaligus menegaskan Persik sebagai tim Divisi Utama yang berkekuatan Liga Super.
Jaya Hartono tinggal memadukan pemain hasil seleksi itu dengan pemain lawan yang masih bercokol. Jaya tinggal mencari tambahan kekuatan pemain asing. Sejauh ini Persik belum berpikir untuk merekrut skuad asing, karena masih terkonsentrasi ke seleksi pemain lokal.
Setelah tim terbentuk, Jaya rencananya akan melanjutkan materi pelatihan dengan latihan fisik. Selain itu, jika tak ada kendala, juga diagendakan sejumlah ujicoba selama September. Tugas Jaya tak ringan karena dituntut bisa promosi kembali ke Divisi Utama.
"Divisi Utama adalah kompetisi sulit dan keras. Butuh persiapan yang tidak ringan," tandasnya.
"Untuk sementara ada 12 pemain yang memenuhi syarat. Kemampuannya sudah sesuai dengan kebutuhan kita di Divisi Utama. Mereka sudah kita ajukan ke manajemen yang paling berwenang soal kontrak," ujar Jaya dihubungi kemarin.
Selama sepekan terakhir, Jaya bersama asisten pelatih Musikan dan Andi Sukrian bekerja keras memilih pemain yang menjajal peruntungan di Macan Putih. Proses seleksi tak mudah dan butuh waktu lebih panjang karena pemain berstatus tarkam juga percaya diri ikut.
Nama yang direkomendasikan Jaya ternyata bukan wajah baru di kompetisi domestik. Di sana ada Amzar Reza (eks Persela), Sonny Kurniawan, Herman Romansyah (eks Persiba), Abdi Gusti (eks Persisam), Ade Chandra (eks Persib), hingga Franky Irawan (eks kiper Persija).
Nama-nama itu mencuat, kata Jaya, karena kualitasnya di atas 38 pemain lainnya. Ia tak mau ambil risiko dengan merekomendasikan pemain tanpa latar belakang pengalaman di kompetisi sebenarnya. Hasil seleksi ini sekaligus menegaskan Persik sebagai tim Divisi Utama yang berkekuatan Liga Super.
Jaya Hartono tinggal memadukan pemain hasil seleksi itu dengan pemain lawan yang masih bercokol. Jaya tinggal mencari tambahan kekuatan pemain asing. Sejauh ini Persik belum berpikir untuk merekrut skuad asing, karena masih terkonsentrasi ke seleksi pemain lokal.
Setelah tim terbentuk, Jaya rencananya akan melanjutkan materi pelatihan dengan latihan fisik. Selain itu, jika tak ada kendala, juga diagendakan sejumlah ujicoba selama September. Tugas Jaya tak ringan karena dituntut bisa promosi kembali ke Divisi Utama.
"Divisi Utama adalah kompetisi sulit dan keras. Butuh persiapan yang tidak ringan," tandasnya.
Jumat, 03 September 2010
Seleksi Hari Pertama Persik Jaya Langsung Coret Tujuh Pemain
Jaya Hartono memulai kiprahnya sebagai pelatih Persik Kediri di lapangan. Kemarin sore (2/9) dia untuk kali pertama memimpin seleksi pemain baru di Stadion Brawijaya mulai pukul 15.30. Meski baru sehari mengadakan latihan, dia langsung mencoret beberapa nama pemain seleksi yang ikut.
'Ada sekitar enam atau tujuh pemain yang kami minta untuk tidak ikut seleksi lagi," jelas mantan pelatih Persib Bandung tersebut setelah memimpin seleksi.
Menurut dia, para pemain itu langsung dicoret karena secara kualitas memang kurang dari standar yang dirinya inginkan. 'Dari passing, crossing, dan control bolanya saja sudah kelihatan. Daripada lama-lama kasihan, mending langsung saja," sebut pelatih dengan inisial JH tersebut.
Untuk diketahui, seleksi yang dimulai kemarin di Stadion Brawijaya dibanjiri para peminat. Total, tak kurang dari 30 pemain mengadu nasib di kandang Macan Putih -julukan Persik. Namun, sebagian besar adalah para pemain yang bermain di ajang antarkampung alias tarkam.
Hanya beberapa pemain yang kiprahnya sudah diketahui di ajang sepak bola nasional. Baik di ISL (Indonesia Super League) maupun Divisi Utama. Misalnya, mantan tulang punggung Persela Lamongan Amsyar Reza yang ikut seleksi sejak Persik main di babak enam besar Piala Gubernur (PG), winger Persedikab Faris Aditama, dan Agung Yuda.
Kondisi itulah yang agak disesalkan Jaya. Dia berharap para pemain yang datang lebih berkualitas dan berpengalaman. 'Di antara sekitar 30 pemain ini, sekilas saya melihat hanya ada 7-8 pemain yang bisa dikembangkan lebih lanjut," sebut Jaya.
'Ada sekitar enam atau tujuh pemain yang kami minta untuk tidak ikut seleksi lagi," jelas mantan pelatih Persib Bandung tersebut setelah memimpin seleksi.
Menurut dia, para pemain itu langsung dicoret karena secara kualitas memang kurang dari standar yang dirinya inginkan. 'Dari passing, crossing, dan control bolanya saja sudah kelihatan. Daripada lama-lama kasihan, mending langsung saja," sebut pelatih dengan inisial JH tersebut.
Untuk diketahui, seleksi yang dimulai kemarin di Stadion Brawijaya dibanjiri para peminat. Total, tak kurang dari 30 pemain mengadu nasib di kandang Macan Putih -julukan Persik. Namun, sebagian besar adalah para pemain yang bermain di ajang antarkampung alias tarkam.
Hanya beberapa pemain yang kiprahnya sudah diketahui di ajang sepak bola nasional. Baik di ISL (Indonesia Super League) maupun Divisi Utama. Misalnya, mantan tulang punggung Persela Lamongan Amsyar Reza yang ikut seleksi sejak Persik main di babak enam besar Piala Gubernur (PG), winger Persedikab Faris Aditama, dan Agung Yuda.
Kondisi itulah yang agak disesalkan Jaya. Dia berharap para pemain yang datang lebih berkualitas dan berpengalaman. 'Di antara sekitar 30 pemain ini, sekilas saya melihat hanya ada 7-8 pemain yang bisa dikembangkan lebih lanjut," sebut Jaya.
Kamis, 02 September 2010
Persela, Persik, Deltras, Persikubar ke semifinal liga jatim
KLASEMEN AKHIR BABAK ENAM BESAR
Grup A (Stadion Surajaya, Lamongan)
Persela v Persik 4-1 (1-0)
(Aris Alfiansyah 35, 51, 68, 88/Legimin Raharjo 80)
1. Persela | 2 | 2 | 0 | 0 | 9-2 | 6*
2. Persik | 2 | 1 | 0 | 1 | 5-4 | 3*
3. Persema | 2 | 0 | 0 | 2 | 1-9 | 0
Grup B (Gelora Delta, Sidoarjo)
Deltras v Persibo 5-0 (2-0)
(Bationo Germain 42, 44, Cristiano Lopes 50, 60, Indra Setiawan 91)
1. Deltras | 2 | 2 | 0 | 0 | 10-3 | 6*
2. Persikubar | 2 | 1 | 0 | 1 | 6-6 | 3*
3. Persibo | 2 | 0 | 0 | 2 | 1-8 | 0
Pencetak Gol
6 gol : Cristiano Lopes (Deltras), Aris Alfiansyah (Persela)
5 gol : Legimin Raharjo (Persik), Bationo Germain (Deltras)
4 gol : Charles Orock (Persikubar)
3 gol : Ahmad Junaidi (Persipro), M. Reza (Persema), Aan Andik, Abdul Aziz (Persik), Cornelis Kaimu (Persikubar),
2 gol : Jimi Suparno (Persela), Samsul Arif (Persibo), Sigit Darmawan (Persik), Widi Susanto (Persikubar)
1 gol : Stanley Bernard, Iswandi Dai (Persibo), Taufik Kasrun, Ezequel Gonzalez, Hendro Siswanto, Ferry Ariawan, Fabiano (Persela), Camara Fassawa (Persikubar), Zulham, Carlos Alberto (Pro Titan), Irfan Bachdim, M. Kamri (Persema), Supaham (Persipro), Sunaji, Nurfasta (Persebaya), Fito Purnomo, Bambang PJ (PSBI), Catur (MP), Dian Sucahyo, M. Arifin (PSBI), Sackie Doe, Vicky Dwi, Indra Setiawan (Deltras)
* Lolos Semifinal
Grup A (Stadion Surajaya, Lamongan)
Persela v Persik 4-1 (1-0)
(Aris Alfiansyah 35, 51, 68, 88/Legimin Raharjo 80)
1. Persela | 2 | 2 | 0 | 0 | 9-2 | 6*
2. Persik | 2 | 1 | 0 | 1 | 5-4 | 3*
3. Persema | 2 | 0 | 0 | 2 | 1-9 | 0
Grup B (Gelora Delta, Sidoarjo)
Deltras v Persibo 5-0 (2-0)
(Bationo Germain 42, 44, Cristiano Lopes 50, 60, Indra Setiawan 91)
1. Deltras | 2 | 2 | 0 | 0 | 10-3 | 6*
2. Persikubar | 2 | 1 | 0 | 1 | 6-6 | 3*
3. Persibo | 2 | 0 | 0 | 2 | 1-8 | 0
Pencetak Gol
6 gol : Cristiano Lopes (Deltras), Aris Alfiansyah (Persela)
5 gol : Legimin Raharjo (Persik), Bationo Germain (Deltras)
4 gol : Charles Orock (Persikubar)
3 gol : Ahmad Junaidi (Persipro), M. Reza (Persema), Aan Andik, Abdul Aziz (Persik), Cornelis Kaimu (Persikubar),
2 gol : Jimi Suparno (Persela), Samsul Arif (Persibo), Sigit Darmawan (Persik), Widi Susanto (Persikubar)
1 gol : Stanley Bernard, Iswandi Dai (Persibo), Taufik Kasrun, Ezequel Gonzalez, Hendro Siswanto, Ferry Ariawan, Fabiano (Persela), Camara Fassawa (Persikubar), Zulham, Carlos Alberto (Pro Titan), Irfan Bachdim, M. Kamri (Persema), Supaham (Persipro), Sunaji, Nurfasta (Persebaya), Fito Purnomo, Bambang PJ (PSBI), Catur (MP), Dian Sucahyo, M. Arifin (PSBI), Sackie Doe, Vicky Dwi, Indra Setiawan (Deltras)
* Lolos Semifinal
Persik kalah kelas
Persela Lamongan memastikan diri sebagai juara grup A babak enam besar Liga Jatim Piala Gubernur 2010. Itu didapat setelah mereka sukses mengalahkan Persik Kediri dengan skor telak 4-1 (1-0) di Stadion Surajaya, Lamongan , tadi malam (1/9).
Empat gol Laskar Joko Tingkir -julukan Persela- diborong Aris Alfiansyah pada menit ke-35, 51, 68, dan 88. Sementara, satu-satunya gol hiburan Persik disumbangkan Legimin Raharjo pada menit ke-80.
Kemenangan tersebut disambut gembira pelatih Persela Subangkit. Menurut dia, hasil bagus itu tak bisa dilepaskan dari keunggulan strategi timnya.
Kami bisa membaca permainan mereka sehingga lini tengah kami bisa mengunci alur bola mereka. Jadinya, mereka terus tertekan, kata Subangkit setelah pertandingan.
Dia memuji penyelesian akhir timnya yang semakin baik bila dibandingkan dengan pertandingan babak pertama. Meskipun memiliki peluang emas, hanya satu gol yang tercipta.
Awalnya memang banyak peluang yang terbuang. Tapi, di babak kedua anak-anak bisa lebih lepas. Persik memang tidak seperti yang dulu, imbuhnya.
Bermain di hadapan pendukungnya, Persela tampil mendominasi sepanjang pertandingan. Sejak awal Fabiano dkk terus menekan pertahanan tim asal Kota Tahu -julukan Kediri.
Akhirnya gol pertama tuan rumah tercipta setelah Aris berhasil memanfaatkan lemahnya pertahanan Legimin dkk. Pemain bernomor punggung 66 itu berhasil merangsek ke kotak penalti dan melepaskan tendangan yang gagal diantisipasi kiper Persik Hery Prasetyo.
Tertinggal 0-1, Persik berusaha meningkatkan serangan. Namun, Persela tak mau lengah dan terus disiplin. Beberapa kali serangan Macan Putih -julukan Persik- dapat dibendung. Sampai turun minum, skor 1-0 tetap bertahan untuk kemenangan tuan rumah.
Memasuki babak kedua, perubahan strategi mulai dilakukan kedua tim. Yang paling mencolok, Subangkit langsung mengganti tiga pemain untuk memasukkan pemain inti. Yakni, Charis Yulianto, Jimi Suparno, dan I Gde Sukadana
Setelah pergantian pemain itu, permainan Persela semakin hidup. Beberapa kali kerja sama antarlini tengah yang dikomandani Gustavo Lopez berbuah peluang.
Hasilnya, tiga gol tambahan bisa diceploskan Aris. Hanya, konsentrasi pemain-pemain Persela saat unggul masih kurang. Terbukti, satu gol yang tercipta dari tendangan keras Legimin berawal dari lengahnya lini belakang Persela.
Pelatih Persik Aris Budi menilai kekalahan tersebut disebabkan timnya kalah kelas. Selain itu, faktor kebugaran menjadi alasan menurunnya permainan anak didiknya pada babak kedua.
Empat gol Laskar Joko Tingkir -julukan Persela- diborong Aris Alfiansyah pada menit ke-35, 51, 68, dan 88. Sementara, satu-satunya gol hiburan Persik disumbangkan Legimin Raharjo pada menit ke-80.
Kemenangan tersebut disambut gembira pelatih Persela Subangkit. Menurut dia, hasil bagus itu tak bisa dilepaskan dari keunggulan strategi timnya.
Kami bisa membaca permainan mereka sehingga lini tengah kami bisa mengunci alur bola mereka. Jadinya, mereka terus tertekan, kata Subangkit setelah pertandingan.
Dia memuji penyelesian akhir timnya yang semakin baik bila dibandingkan dengan pertandingan babak pertama. Meskipun memiliki peluang emas, hanya satu gol yang tercipta.
Awalnya memang banyak peluang yang terbuang. Tapi, di babak kedua anak-anak bisa lebih lepas. Persik memang tidak seperti yang dulu, imbuhnya.
Bermain di hadapan pendukungnya, Persela tampil mendominasi sepanjang pertandingan. Sejak awal Fabiano dkk terus menekan pertahanan tim asal Kota Tahu -julukan Kediri.
Akhirnya gol pertama tuan rumah tercipta setelah Aris berhasil memanfaatkan lemahnya pertahanan Legimin dkk. Pemain bernomor punggung 66 itu berhasil merangsek ke kotak penalti dan melepaskan tendangan yang gagal diantisipasi kiper Persik Hery Prasetyo.
Tertinggal 0-1, Persik berusaha meningkatkan serangan. Namun, Persela tak mau lengah dan terus disiplin. Beberapa kali serangan Macan Putih -julukan Persik- dapat dibendung. Sampai turun minum, skor 1-0 tetap bertahan untuk kemenangan tuan rumah.
Memasuki babak kedua, perubahan strategi mulai dilakukan kedua tim. Yang paling mencolok, Subangkit langsung mengganti tiga pemain untuk memasukkan pemain inti. Yakni, Charis Yulianto, Jimi Suparno, dan I Gde Sukadana
Setelah pergantian pemain itu, permainan Persela semakin hidup. Beberapa kali kerja sama antarlini tengah yang dikomandani Gustavo Lopez berbuah peluang.
Hasilnya, tiga gol tambahan bisa diceploskan Aris. Hanya, konsentrasi pemain-pemain Persela saat unggul masih kurang. Terbukti, satu gol yang tercipta dari tendangan keras Legimin berawal dari lengahnya lini belakang Persela.
Pelatih Persik Aris Budi menilai kekalahan tersebut disebabkan timnya kalah kelas. Selain itu, faktor kebugaran menjadi alasan menurunnya permainan anak didiknya pada babak kedua.
Langganan:
Postingan (Atom)


